"Motor Aing Kumaha Aing", "Hari Gini Masih Over Gigi", "Biar Cepat Asal Selamat", "Dilarang Pinjam Selain Monyet", "Biar Butut Jago Ngebut", "Nyalip Jitak", "Yang Minjem Isi Bensin", "Team Pemburu Jablay", "Motor Lunas Pacar Kandas".
TERUTAMA ketika lalu lintas macet, salah satu stiker teks di atas pasti tanpa sengaja pernah kita baca, menempel di sepeda motor. Umumnya teksnya itu menempel di permukaan kertas berwarna kuning dan ditempelkan di sepatbor bagian belakang. Tetapi pada jenis sepeda motor vespa, stiker itu ada juga yang ditempelkan di bagian sayap. Letak penempelan stiker di bagian belakang atau depan sepeda motor, agaknya disesuaikan dengan isi teks. Misalnya, teks "Warning Nyalip Kiri Loe Banci" atau "Warning Buntutin Kalau Berani", selalu kita temukan di bagian belakang sepeda motor. Penempatan di bagian belakang motor menjelaskan pembaca yang ditujunya.
Stiker yang pada tahun 1970-an dikenal dengan sebutan gambar tempel, dengan mudah setiap hari kita temukan menghiasi berbagai sepeda motor. Di Bandung, di tepi-tepi jalan, bersama kelengkapan pengendara sepeda motor, para pedagang stiker pun menjamur. Akan tetapi stiker berupa teks itu agaknya bukanlah melulu diniatkan sebagai hiasan. Ia ditempelkan seolah menjadi cara untuk merepresentasikan identitas atau realitas kultur urban yang jauh dari hanya sekadar teks, di sadari atau tidak. Tetapi pada tataran yang lebih fungsional, dari sejak pemilihan jenis dan isi teks stiker hingga posisi pemasangannya beserta niatannya, lebih merupakan cara untuk melakukan komunikasi di tengah keramaian lalu lintas. Komunikasi yang hadir dengan spirit keisengan masyarakat urban.
Stiker sepeda motor adalah teks yang mencoba saling berinteraksi, mengikuti perkembangan teknologi otomotif itu sendiri. Dengan kata lain, kemajuan teknologi otomotif telah melahirkan beragam teks yang mengikutinya. Sebutlah, munculnya sepeda motor jenis matik yang tanpa perseneling (gigi), yang melahirkan teks stiker "Hari Gini Masih Over Gigi". Teks stiker yang dipasang di bagian belakang sepatbor ini, merupakan sinisme pada pengendara sepeda motor yang masih menggunakan gigi, sekaligus membanggakan sebuah kemajuan teknologi. Tetapi tak lama kemudian, muncul pula teks tandingannya yang menempel di sepeda motor yang menggunakan gigi, "Cuma Bayi Yang Gak Punya Gigi".
Stiker teks di sepeda motor yang banyak menjamur di perkotaan hari ini, menyuguhkan berbagai permainan bahasa dan simbol yang dipelesetkan, baik makna, bentuk, juga fungsinya. Ia mencomot simbol-simbol konvensional, dari mulai jenis huruf, teks pengantar (warning), untuk lalu diubah menjadi permainan yang narsis, menyindir, hingga pernyataan-pernyataan lelucon yang cabul. Simbol konvensional yang dicomot termasuk juga plat nomor kendaraan, yang "didekontruksi" menjadi makna yang berlainan, "C 3 WE Matre", "B 454 H Kolornya", "R 4 JA Goda", "A 5 LI Pribumi", "KR 3 DIT capek deh", atau "G 4 JI Buta".
Sepintas perkembangan dan perubahan stiker yang umumnya menampilkan beragam teks ini dan tidak lagi menjadi visual, mengingatkan kita pada teks-teks yang menempel di belakang truk. Dalam ukuran yang besar, teks yang dibuat dengan cat tebal itu ditemukan dengan berbagai konteks, yang merujuk pada kehidupan para sopir truk dan dunia jalanan; "Kutunggu Jandamu", "Abang Pulang Bawa Duit Bukan Bawa Penyakit", atau "Tilas Tapi Raos". Akan tetapi dalam perkembangan medium yang lain pun, misalnya, dalam desain kaos oblong, penampilan teks dengan berbagai pernyataan yang nyeleneh dan memancing senyum, akhir-akhir ini memang menjamur, meski belum bisa menggeser desain visual atau gambar.
Stiker yang banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, mampu menghadirkan sebuah peluang bisnis baru. banyak para pedagang kaki lima yang menyambung hidupnya dengan berjualan stiker. Di Bandung sendiri terdapat sebuah toko grosir stiker yang sudah lama malang melintang berbisnis dibidang ini. Adalah REPOST (Ressa Poster) yang menjadi induk supply stiker bagi para pedagang kaki lima serta agen-agen stiker di seluruh kota di Indonesia. Dengan pengalamannya yang kurang lebih sepuluh tahun bergelut dibidang ini menjadikan REPOST sebagai salah satu barometer bagi para pencinta stiker saat ini. Kunjungi REPOST disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar